Minggu, 09 Oktober 2016

Dere Serani Manggarai

Sahabat pembaca asemolas, rasanya lama sudah tak kembali berkicau tentang 'Manggarai, tanah kelahiran'. Sepertinya ini momen yang tepat untuk kembali mengupas ingatan tentang 'Manggarai'. Kali ini mari kita bahas secara khusus tentang "Dere Serani Manggarai".  Yuk, ikuti ulasan singkat asemolas.com. 

Katedral Lama Ruteng, Manggarai, Flores


Apa Itu 'Dere Serani'?
Apa kamu pernah mendengar tentang 'Dere Serani'? Dere Serani merupakan paduan dua kata yang berasal dari bahasa daerah Manggarai, Flores. Dua kata tersebut yaitu "Dere" artinya lagu atau nyanyian dan "Serani" artinya rohani. Jika diartikan berdasarkan paduan dua kata itu 'Dere Serani' artinya lagu atau nyanyian rohani. 

Jika ditanya lebih jauh tentang apa itu dere serani? Bisa diartikan seperti ini; 'Dere Serani' adalah kumpulan lagu-lagu rohani (atau lagu-lagu gereja) dalam bahasa Manggarai, Flores yang hingga saat ini tercatat dan tertulis dalam bentuk sebuah buku. 

Lagu-lagu dere serani ini biasanya dinyanyikan pada saat doa atau upacara sakral lainnya. Misalnya saat misa (doa bersama) hari minggu, doa rosario di bulan Maria  yaitu bulan Mei dan Oktober, doa bersama saat upacara-upacara penting orang katolik Manggarai, atau pada waktu upacara adat orang Manggarai.


Sejarah Dere Serani
Jika ditelusuri dari jejak sejarah, begitu sulitnya para misionaris berusaha menerjemahkan lagu-lagu asing ke dalam bahasa daerah Manggarai. Upaya mereka ini bermaksud agar umat (sebutan untuk orang-orang Katolik) dapat mengambil bagian secara aktif dalam menyanyikan lagu-lagu Gereja dalam ibadat (doa bersama). 

Lagu  Gereja atau Kristiani dalam bahasa Manggarai ini dilatih untuk pertama kalinya pada tanggal 13 Mei 1922 oleh Pater Frans Dorn, SVD bersama anak sekolah di Ruteng. Lagu Manggarai pertama ini berjudul: "Mai Momang Maria" artinya Mengasihi Maria. Kemudian lagu terjemahan 'Mai Momang Maria' ini pertama kali dinyanyikan pada saat ibadat katolik di suatu kesempatan Misa Hari Minggu, tepatnya tanggal 21 Mei 1922. 

Setelah lagu pertama ini mulai diterima dan dikuasai oleh umat katolik Manggarai, menyusul diterjemahkan lagu-lagu lainnya. Hingga pada Pesta Tuhan Yesus Naik ke Surga tanggal 25 Mei 1922, untuk pertama kalinya orang-orang katolik Manggarai mengumandangkan nyanyian koral bahasa Latin dan Asperges dalam bahasa Manggarai. 

Setelah dilihat makin baik dan bagus cara penguasaan lagu oleh orang-orang Manggarai, maka makin banyak lagu-lagu asing yang diterjemahkan ke dalam bahasa Manggarai. Hingga akhirnya lagu terjemahan tersebut telah mengisi hampir sebagian buku dere serani. Hal itu yang membuat perhatian dan minat para misionaris kian tumbuh terhadap lagu-lagu asli Manggarai. 

Ciri yang membedakan dari lagu-lagu asli dalam dere serani adalah pengarangnya anonim dan tidak dicantumkan tahunnya. 

Mbata, Lagu Dalam Upacara Adat Manggarai, Flores


Dere Serani Dan Upacara Adat Manggarai
Jenis-jenis lagu asli yang menarik perhatian adalah lagu-lagu yang umumnya dipakai dalam upacara adat asli orang Manggarai. Lagu-lagu asli tersebut diantaranya Sanda, Mbata, dan Danding. 
Sanda, mbata, dan danding memiliki ciri khas masing-masing.

Hal yang membedakan diantara ketiga jenis nyanyian Manggarai ini, adalah:
  • Sanda
Sanda adalah sejenis lagu yang berisi unsur-unsur pemujaan atau terkadang berisi kisah-kisah sejarah (suku). Sanda bisa dinyanyikan sambil duduk, berdiri, dan atau menari dimana para penyanyi akan membentuk sebuah lingkaran dan bergerak (menari) dalam irama kaki yang sama.

  • Mbata
Mbata adalah lagu yang biasanya dinyanyikan pada malam hari (kecuali mbata kaba atau kerbau) dalam sebuah rumah khusus (Mbaru Gendang atau rumah adat orang Manggarai). 
Para penyanyi mengambil posisi duduk bersila di lantai sambil menabuh gong dan gendang sebagai pengiring lagu. 

Isi mbata pada umumnya mengenai kisah-kisah kepahlawanan, cinta, dan rekaman peristiwa-peristiwa penting dalam suku. Atau terkadang berisi ajaran-ajaran seperti fabel, legenda, dan parabel.

  • Danding
Danding memiliki bentuk dan ciri tersendiri. Dimana bentuknya lebih pendek dan terdiri dari dua bagian yang dinyanyikan bergantian antara dua kelompok (biasanya kelompok perempuan dan kelompok laki-laki).

Para penyanyi yang biasanya sekaligus berperan sebagai penari membentuk sebuah lingkaran dan bergerak maju mundur dengan irama kaki yang sama, seperti gerakan pada sanda. Yang membedakan danding dengan sanda adalah irama gerakan kaki sang penari. Pada sanda, irama gerakan kakinya agak lambat. Sedangkan untuk danding, irama kaki penari lebih cepat dan hidup (bersemangat). 

Isi danding umumnya merupakan rekaman peristiwa-peristiwa secara singkat dan ringkas. Misalnya kisah percintaan atau peristiwa hidup yang sedang terjadi di dalam masyarakat. Sedangkan untuk danding-danding klasik, biasanya berisi unsur-unsur sage dan legenda.


Kain Songke, Tenun Ikat Manggarai, Flores


Dere Serani Dan Perkembangannya
Usaha pemberian motivasi mengubah atau menerjemahkan lagu asing ke dalam bahasa Manggarai berlangsung hampir sepuluh tahun. Upaya ini baru mendapat tanggapan dan diakui pada tahun 1936. Dimana pada tahun ini, seorang guru bernama Philipus Manti menciptakan dua (2) buah lagu Gereja dari lagu asli Manggarai. 

Beliau pernah mengikuti kursus guru selama dua tahun di Ndona, Ende, Flores. Dua lagu tadi diciptakan di Ruteng, Manggarai. Lagu yang diciptakan bapak Philipus berjudul "Doingkoe Ga" artinya sadarilah dan "Moriga Kristus" artinya Tuhanku Kristus. 

Dua lagu ini berisi permohonan kepada Allah dari orang tua, yang dinyanyikan sebelum maju untuk berperang. Lagu pertama (Doingkoe Ga) bersifat imperatif dan bermakna menyadarkan orang untuk selalu waspada dan berjaga-jaga. Sedangkan lagu kedua, Moriga Kristus, mengisahkan kepahlawanan seorang tokoh yang jadi korban perang.

Untuk saat ini dalam buku Dere Serani, dua lagu ciptaan bapak Philipus ini dikelompokkan sebagai lagu untuk masa puasa. 


Sekian dulu penjelasan singkat tentang sejarah awal Dere Serani Manggarai. Untuk pembahasan lanjut tentang perkembangan Dere Serani akan dijelaskan dalam artikel berikutnya. 

Jika ada saran, pendapat, dan atau kritik terkait artikel ini, bisa tuliskan di kolom komentar. Semoga informasi ini dapat menambah wawasan baru untuk kita. *


Sumber: "Uskup Wilhelmus van Bekkum & Dere Serani" karya Bonefasius Jehandut


Katedral Baru, Manggarai, Flores


Related Posts

Dere Serani Manggarai
4/ 5
Oleh

Berlangganan via email

Ingin berlangganan artikel asemolas.com? Silahkan daftarkan email Anda di bawah ini: