Minggu, 16 Oktober 2016

Cerita Seorang Pengidap Kanker langka

Sahabat pembaca asemolas, kali ini asemolas.com hadir dengan cerita yang agak berbeda. Pada artikel berikut akan dibahas cerita seorang sahabat yang pernah mengidap 'Kanker Langka'. Jangan sampai kamu melewatkan kisah berharga ini.

Lambang Kepedulian Untuk Penderita Kanker

AKU DAN KANKER
Kanker. Sebuah kata yang sa­ngat menyeramkan. Tak pernah terpikirkan kalau penyakit ini akan mengidap di tubuh saya. Selama ini saya menerapkan hidup sehat. Tidak minum alkohol, tidak merokok, ataupun pergi ke klub malam. 

Saya juga rajin olahraga. Kalau pun ada yang tidak benar pada diri saya, itu adalah kecintaan saya pada pekerjaan. Teman-teman sampai menyematkan gelar 'gila kerja'  untuk saya. Akibat gila kerja itu, saya juga mempunyai kebiasaan buruk, yakni insomnia. Hampir setiap malam saya kesulitan tidur.

BENJOLAN DALAM PERUT
Suatu hari, pada bulan Juni 2009, se­pulang dari fitness badan saya terasa lemas dan tak bertenaga. Rasanya ingin pingsan saking letihnya. Saya bertanya-tanya, ada apa ini? Biasanya sepulang berolahraga badan memang agak sedikit lelah, tapi tidak sampai selemas ini. 

Curiga dengan kondisi ini, saya pun memeriksakan diri ke dokter, Siapa tahu badan lemas ini berhubung­an dengan rasa kelelahan berlebih yang sudah saya rasakan beberapa minggu ke belakang ini. Saya merasa ada yang tidak benar dengan tubuh ini. 

Suatu hari, secara tidak sengaja saya meraba perut dan merasa seperti ada benjolan di dinding kanan perut. Setelah diperiksa oleh dokter umum, saya dinyatakan baik-baik saja dan hanya kelelahan karena banyaknya aktivitas. Saya pun disaran­kan untuk banyak istirahat. Saya berpikir, benjolan ini ada hubungannya dengan operasi usus buntu yang pernah saya lakukan pada tahun 2006. 

Penasaran, saya pun menanyakan kepada adik, yang juga pernah operasi usus buntu. Ternyata dia tidak merasakan benjolan yang sama. Saya menyimpulkan berarti ini bukan karena bekas operasi yang pernah saya jalani. Tetapi karena ada sesuatu yang lain di dalam perut saya.

Saya pun memeriksakan diri saya kepada dokter yang pernah menangani saya pada saat operasi usus buntu. Saya menceritakan gejala-gejala yang saya alami belakangan ini. Dokter pun menyarankan saya untuk melakukan USG (ultrasonography).

Dari hasil USG  terlihat ada abses (selaput organ yang menyebabkan munculnya lubang tempat nanah berkumpul). Untuk memastikan, dokter meminta saya untuk melanjutkan pemeriksaan dengan melakukan CT-Scan (Computerized Axial Tomografi).

Entah kenapa, saya langsung mempunyai perasaan tidak enak. Dalam hati saya berucap, pasti ada sesuatu yang tidak semestinya di dalam perut. Perasaan tidak enak ini mendorong saya mencari dokter spesialis penyakit dalam di rumah sakit lain. Setelah bertanya kepada banyak pihak, atas rujukan atasan saya di kantor, saya pun memutuskan untuk memeriksakan diri saya ke dokter penyakit dalam di Rumah Sakit MMC.

Saya pun akhirnya menjalani CT-Scan dan hasilnya terlihat ada bentukan padat dan cair di perut bagian kanan bawah saya yang harus segera diangkat melalui operasi. Perasaan waswas dan takut mulai menyergap diri ini karena harus menghadapi operasi. Tapi saya berdoa dan berharap agar semuanya bisa berjalan dengan lancar dan baik.  

Seorang Pasien Penderita Kanker Sedang Konsultasi Dengan Dokter

KANKER MENYEBARKE PERUT
Akhirnya, operasi pun dilakukan pada 13 Juni 2009. Alhamdulillah semua berjalan dengan lancar. Sample yang sudah diangkat pun dibawa ke laboratorium untuk dilakukan tes patologi. Selang satu hari, hasil patologi tes pun keluar dan diagnosa yang didapat adalah tumor dinding perut.

Seluruh sendi-sendi di badan langsung terasa lemas. Tidak pernah sama sekali terpikir akan mendengar hasil tersebut. Dokter menyarankan agar melakukan operasi susulan untuk membuka lebih besar dan mengangkat lebih banyak sel tumor yang bersarang di perut kanan bawah saya.

Saat operasi kedua yang dilakukan pada tanggal 13 Juli 2009, terlihatlah sel-sel tumor memang sudah menyebar di sekitar dinding perut dan me­nempel di jaringan otot sampai pangkal paha. Otot perut saya harus diangkat supaya sel-sel tumor tidak menyebar ke organ tubuh yang lain. Dokter berusaha membersihkan semuanya dan memakan waktu operasi yang lumayan panjang. Ini pukulan berat buat saya. Pasalnya, setelah peng­angkatan otot perut, saya jadi tidak bebas beraktivitas.

Hasil patologi dari operasi kedua ini pun sungguh sangat mengejutkan karena diagnosanya adalah fibrosarcoma (kanker dinding perut). Dulu saya rajin berolahraga. Sekarang kegiatan ini harus saya kurangi. Jangankan kegiatan yang menghabiskan banyak tenaga, untuk mengangkat barang saja sudah sulit. 

Tak hanya itu, ketika naik mobil pun saya harus menghindari jalan berlobang. Kalau sampai kena guncangan, perut ini sakitnya bukan main. Untuk mengganti otot perut yang sudah tidak ada, saya memakai otot buatan yang disebut meshMesh ini berfungsi menahan isi perut. 

Saat pertama kali 'dimasukkan' ke perut, mesh masih dalam keadaan lembek. Lambat laun otot pengganti itu akan mengeras. Selama menunggu mesh mengeras, saya harus memakai korset di sekeliling perut. Kalau tidak, saya akan kesakitan. Perut se­perti dikocok-kocok terus. Benar-benar tersiksa.

SAYA HARUS MENAHAN RASA SAKIT
Setelah operasi kedua bulan Juli 2009, saya baru bisa kembali bekerja pada bulan Oktober 2009. Itu pun secara bertahap mengikuti kesanggupan fisik saya pascaoperasi. Posisi saya sebagai business development manager di salah satu perusahaan kontraktor di bidang oil dan gas.

Suatu hari di bulan November, dalam kondisi yang belum seratus persen pulih, saya harus mengikuti acara pembukaan SPBBG (Stasiun Pengisian Bahan Bakar Gas) di daerah Industri Karawang, Jawa Barat. Panas matahari yang terik di lokasi dan kondisi yang belum begitu fit membuat badan saya sangat lemas. Begitu sampai di kantor saya merasakan sesak yang teramat sangat di dada kiri.

Saya sempat panik. Pasalnya sesudah menjalani operasi kedua, saya sempat bertanya pada dokter, kalau sampai berkembang, ke manakah sel kanker ini menyebar? Dokter menjawab, 'Paru-paru'. Makanya, begitu dada sesak dan napas tersengal-sengal, saya begitu takut. 'Ya, Allah, begitu cepatkah penyebaran­nya?' demikian pikiran buruk yang berkelebat.

Saya kembali ke dokter untuk memeriksakan diri dan dokter meng­anjurkan serangkaian pemeriksaan antara lain foto thorax, CT-Scan abdomen dan ECHO, atau pemeriksaan jantung. Di sana terlihat kalau di jantung saya memang terjadi pelebaran sedikit di pembuluh balik, tapi masih dalam batas yang wajar. Namun untuk memastikan, dokter onkolog menya­rankan untuk melakukan PET-Scan.

PET-Scan mirip dengan CT-Scan, yaitu proses pemotretan untuk melihat kondisi di dalam tubuh. Bedanya, PET-Scan menggunakan teknologi nuklir yang tingkat radiasinya sangat tinggi. Jika hasil CT-Scan biasanya berupa foto hitam putih, PET-Scan memberikan hasil foto berwarna yang menunjukkan isi tubuh dengan sangat lebih jelas. 

Intinya, dengan PET-Scan, diagnosa untuk penyakit saya lebih bisa diketahui secara pasti. Masalahnya, proses ini sangatlah menyakitkan dan membuat saya menjadi takut pada ruangan sempit. Radiasi yang tinggi membuat tubuh terasa sangat tidak mengenakkan. Saya tidak bisa mene­mukan kata-kata yang tepat untuk menggambarkan bagaimana menyiksanya menjalani proses PET-Scan ini.

Setelah selesai menjalani PET-Scan, untuk satu hari satu malam saya tidak boleh bertemu dengan anak kecil dan orang tua karena radiasi di tubuh saya yang sangat kuat. Kalau sampai anak kecil mendekat, bisa berbahaya. Semalaman saya tidak bisa makan sama sekali, bahkan sampai muntah.

Dari hasil PET Scan akhirnya ditemukan lagi adanya sel kanker di tubuh saya.  Bukan di paru-paru seper­ti yang dikhawatirkan, melain­kan menyebar ke otot perut sebelah kiri dan di tulang panggul kanan. 

Mau tidak mau, dokter harus melakukan operasi ketiga untuk pengangkatan lagi. Operasi ketiga jauh lebih besar dan lebih rumit karena tulang panggul saya harus dikerok untuk mengangkat sel kanker yang bersarang di sana. Saya masih ingat betul, hari itu Rabu, 30 Desember 2010. Saya sedang berulang tahun yang ke-35. 

Ruangan Perawatan Penderita Kanker

Ultimatum dokter untuk operasi lagi menjadi 'hadiah' istimewa saya. Saya tidak bisa langsung menyetujui permintaan dokter. Rasa sakit luar biasa yang harus saya lalui pada dua operasi sebelumnya masih terbayang. Saya betul-betul merasa tidak sanggup kalau harus melakukan operasi ketiga.

Bagi penderita kanker lain, ada pilihan untuk melakukan kemoterapi. Tapi untuk kanker dinding perut seper­ti yang saya derita, kemoterapi tidak bisa dilakukan. Hanya operasi sebagai jalan satu-satunya. Akhirnya, setelah memikirkan dalam-dalam, saya menyetujui tindakan operasi itu.

Saya sudah melewati dua operasi yang menyakitkan. Buat apa saya menyerah sekarang? Saya harus bangkit. Semangat ini memotivasi menjalani operasi ketiga yang dilakukan Januari  2010. Jadi, total dalam waktu kurang dari setahun saya sudah menjalani tiga kali operasi: Juni 2009, Juli 2009, dan Januari 2010.

DUKUNGAN KELUARGA DAN SAHABAT
Saat menjalani operasi pertama dan kedua, saya sembunyi-sembunyi. Hanya Mama dan keluarga dekat yang tahu. Orang kantor dan sahabat-sahabat tidak ada yang saya ceritakan. Jujur, ketika itu saya belum siap bersikap terbuka. Perlu diketahui, tidak banyak penderita kanker yang mau mengakui penyakit mereka. Sebagian besar memilih mengucilkan diri. Saya juga demikian.

Sebenarnya sahabat-sahabat saya sudah mulai curiga. Pasalnya saya menunjukkan beberapa perubahan. Antara lain tidak pernah lagi memakai sepatu hak tinggi. Padahal sebelumnya saya dijuluki Miss Stiletto karena kecintaan saya pada sepatu berhak lancip. Tapi karena kanker dinding perut ini, saya harus melepas kecintaan pada sepatu berhak lancip tersebut karena rasa sakit yang sangat menyiksa jika menggunakan sepatu itu.

Pada saat akan menghadapi operasi ketiga, saya membutuhkan banyak dukungan. Akhirnya saya kumpulkan keenam sahabat saya dan menceritakan penyakit ini. Saat itu juga mereka langsung menangis. Tidak ada yang menduga saya mengidap penyakit seserius itu. Perlu diketahui, kanker dinding perut termasuk kanker langka. Tidak hanya di Indonesia, tapi juga di dunia.

Saya lega sudah bisa membuka hati pada sahabat dan keluarga. Untuk penderita kanker, semangat obat nomor satu. Dari merekalah saya mendapatkan energi baru dan semangat untuk melewati operasi ketiga ini. Dukungan keluarga juga membuat saya kuat. Terlebih lagi ibu saya. Beliau penyemangat nomor satu yang selalu berdoa demi kesembuhan saya. 

Saya sendiri berusaha untuk tidak menunjukkan rasa sakit atau ketakut­an saya di depan ibu. Dia pasti akan jauh lebih sedih dibanding saya. Apa­lagi ayah saya juga meninggal karena kanker. Jadi begitu mengetahui saya juga mengidap kanker, hati ibu hancur berkeping-keping. Tapi dia selalu setia menemani saya melewati hari demi hari. Dengan doa dan kata-kata positif pembangkit semangat.

Kini, saya juga bergabung di Cancer Information Support Center (CISC). Memang saya tidak selalu mengikuti acaranya karena faktor kesehatan. Di komunitas ini, saya mendapat banyak dukungan, ditambah info-info seputar masalah kanker.  Saya harus terus maju. Perjalanan masih panjang.

Saya sudah pernah melalui masa di mana saya marah-marah pada Tuhan. Saya merasa Dia tidak adil kare­na telah memberi saya penyakit ini. Tapi kini pikiran saya sudah terbuka. Tuhan tidak mungkin memberikan cobaan melebihi batas kemampuan umat-Nya. Ya, kanker sudah membuat saya jatuh. Tapi berkat cinta dan kasih sayang dari keluarga serta sahabat, saya bisa bangkit lagi.. (M.S)

Demikian kisah singkat dari 'seorang sahabat pengidap kanker langka'. Mudah-mudahan cerita ini dapat bermanfaat dan menambah informasi baru buatmu. Satu hal yang paling penting, jaga terus kesehatanmu karena sehat itu mahal.

Jika ada saran, kritik, atau informasi lain berkaitan dengan artikel ini, silakan tulis dikolom komentar. 

Penderita Kanker Dan Harapan Hidup


Related Posts

Cerita Seorang Pengidap Kanker langka
4/ 5
Oleh

Berlangganan via email

Ingin berlangganan artikel asemolas.com? Silahkan daftarkan email Anda di bawah ini: